SUNNAH DAN BID'AH

Lembaga Ta'mir Masjid Nahdlatul Ulama


Menurut para ulama’ bid’ah dalam ibadah dibagi dua: yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Di antara para ulama’ yang membagi bid’ah ke dalam dua kategori ini adalah:
1.      Imam Syafi’i
Menurut Imam Syafi’i, bid’ah dibagi dua: bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah. Jadi bid’ah yang mencocoki sunah adalah mahmudah, dan yang tidak mencocoki sunah adalah madzmumah.
Bid’ah hasanah/mahmudah dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah bid’ah wajib seperti kodifikasi (pengumpulan) al-Qur’an pada zaman khalifah Utsman bin Affan dan pengumpulan hadits ke dalam kitab-kitab besar pada zaman sesudahnya.
Sedangkan bid’ah hasanah yang keduan adalah bid’ah sunah, seperti shalat tarawih 20 rakaat pada zaman khalifah Umar bin Khathab.1

2.      Imam al-Baihaqi
Bid’ah menurut Imam Baihaqi dibagi dua; bid’ah madzmumah dan ghairu madzmumah. Setiap bid’ah yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunah, dan Ijma’ adalah bid’ah mahmudah atau ghairu madzmumah. Sedangkan bid’ah yang tercela (madzmumah) adalah bid’ah yang tidak memiliki dasar syar’i sama sekali.2

3.      Imam Nawawi
Bid’ah menurut Imam Nawawi dibagi menjadi dua; bid’ah hasanah dan bid’ah qabihah.3

4.      Imam al-Hafidz Ibnu Atsir
Ibnu Atsir juga membagi bid’ah menjadi dua; bid’ah yang terdapat petunjuk nash (teks al-Qur’an/hadits) di dalamnya, dan bid’ah yang tidak ada petunjuk nash di dalamnya.
Jadi setiap bentuk bid’ah yang menyalahi kitab dan sunah adalah tercela dan harus diingkari. Akan tetapi bid’ah yang mencocoki keumuman dalil-dalil nash, maka masuk dalam kategori terpuji.4

Lalu bagaimana dengan hadits:
كل بدعة ضلا لة
Setiap bid’ah adalah sesat.

Berikut ini adalah pendapat para ulama’:
1.      Imam Nawawi
Hadits di atas adalah masuk dalam kategori ‘am (umum) yang harus ditakhshish (diperinci).5

2.      Imam al-Hafidz Ibnu Rajab
Hadits di atas adalah dalam kategori ‘am akan tetapi yang dikehendaki adalah khash (‘am yuridu bihil khash). Artinya secara teks hadits tersebut bersifat umum, namum dalam pemaknaannya dibutuhkan rincian-rincian.6

Ada sebagian ulama’ yang membagi bid’ah menjadi lima bagian sebagai berikut,
1.      Bid’ah yang wajib dilakukan: contohnya, belajar ilmu nahwu, belajar sistematika argumrntasi teologi dengan tujuan untuk menunjukkan kepada orang-orang atheis dan orang-orang yang ingkar kepada agama Islam, dll.
2.      Bid’ah yang mandub (dianjurkan): contohnya, adzan menggunakan pengeras suara, mencetak buku-buku ilmiah, membangun madrasah, dan lain-lain.
3.      Bid’ah yang mubah: contohnya, membuat hidangan makanan yang berwarna-warni, dan sejenisnya.
4.      Bid’ah yang makruh: contohnya, berlebihan dalam menghias mushaf, masjid dan sebagainya.
5.      Bid’ah yang haram: yaitu setiap sesuatu yang baru dalam agama yang bertentangan dengan dalil syar’i.

----------------------------------------------
1 Yusuf al-Khatar “al-Musu’ah”, hal. 480
2 Ibid
3 Ibid
4 Ibid, hal. 481
5 Ibid, hal. 482
6 Ibid
7 Ibid. hal. 481-482.

Sumber: Lembaga Ta’mir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM-PBNU). Tradisi Amaliah NU & Dalil-Dalilnya. Jakarta
Previous
Next Post »
Thanks for your comment