Kenali Lebih Jauh Demam Berdarah Dengue (DBD)



Demam berdarah dengue (DBD) telah menjadi masalah kesehatan bukan hanya di Indonesia tetapi di juga di negara lain di Asia Tenggara. Selama tiga sampai lima tahun terakhir jumlah kasus DBD telah meningkat sehingga Asia Tenggara menjadi wilayah hiperendemis1. Sejak tahun 1956 sampai 1980 di seluruh dunia kasus DBD yang memerlukan rawat inap mencapai 350 000 kasus per tahun sedang yang meninggal dilaporkan hampir mencapai 12 000 kasus. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang merupakan anggota genus Flavivirus dari famili Flaviviridae. Terdapat 4 serotipe virus dengue yang disebut DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Oleh karena ditularkan melalui gigitan artropoda maka virus dengue termasuk arbovirus. Vektor DBD yang utama adalah nyamuk Aedes aegypti.

DBD merupakan bentuk berat dari infeksi dengue yang ditandai dengan demam akut, trombositopenia, netropenia dan perdarahan. Permeabilitas vaskular meningkat yang ditandai dengan kebocoran plasma ke jaringan interstitiel mengakibatkan hemokonsentrasi, efusi pleura, hipoalbuminemia dan hiponatremia yang akan menyebabkan syok hipovolemik. Mekanisme terjadinya peningkatan permeabilitas vaskular dan perdarahan pada DBD belum diketahui dengan jelas. Pada otopsi kasus DBD tidak dijumpai adanya infeksi virus dengue pada sel endotel kapiler. Pada percobaan in vitro dengan kultur sel endotel, ternyata sel endotel akan mengalami aktivasi jika terpapar dengan monosit yang terinfeksi virus dengue 10. Diduga setelah virus dengue berikatan dengan antibodi maka komplek ini akan melekat pada monosit karena monosit mempunyai Fc receptor.

Oleh karena antibodi bersifat heterolog, maka virus tidak dinetralkan sehingga bebas melakukan replikasi di dalam monosit. Monosit akan menghasilkan sitokin yang akan menyebabkan sel endotel teraktivasi sehingga mengekspresikan molekul adhesi seperti vascular cell adhesion molecule-1 (VCAM-1) dan intercellular adhesion molecule-1 (ICAM-1). Peningkatan TNF-α dan IL-6 pada DBD telah dilaporkan oleh Hadinegoro. Sedangkan Suharti menemukan peningkatan TNF–α, IL-1β dan IL-1Ra pada DBD 3. Pada infeksi yang berat ekspresi VCAM-1 pada sel endotel berlebihan sehingga dilepaskan ke dalam sirkulasi dalam bentuk terlarut (soluble VCAM-1). Jadi molekul adhesi terlarut merupakan petanda aktivasi atau kerusakan endotel 11. Sitokin juga dapat menimbulkan berbagai perubahan pada fungsi sel endotel yaitu peningkatan sekresi faktor von Willebrand (vWF), tissue factor (TF), platelet activating factor (PAF), plasminogen activator inhibitor (PAI) prostasiklin (PGI2), dan nitric oxide (NO) serta penurunan tissue plasminogen activator (tPA) dan trombomodulin. Oleh karena itu pada disfungsi endotel terjadi peningkatan permeabilitas vaskular dan aktivasi sistem koagulasi. Salah satu petanda aktivasi sistem koagulasi adalah peningkatan kadar D-dimer yang merupakan hasil degradasi fibrin oleh plasmin.



Menurut WHO penyakit DBD dapat dikelompokkan atas 4 derajat 15. Pada derajat I manifestasi kliniknya demam disertai gejala tidak khas. Satu satunya manifestasi perdarahan adalah uji torniket positif. Pada pemeriksaan laboratorium dijumpai trombositopenia dan/ atau hemokonsentrasi. Derajat II manifestasi klinik seperti derajat I disertai perdarahan spntan di kulit dan/atau perdarahan yang lain Pada derajat III didapatkan kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lembut, tekanan nadi menurun (≤ 20 mm Hg) atau hipotensi dan sianosis di sekitar mulut. Pada derajat IV dijumpai syok berat dengan nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak terukur.

Sumber:
Rahajuningsih Dharma., Sri Rezeki Hadinegoro., dan Ika Priatni. DISFUNGSI ENDOTEL PADA DEMAM BERDARAH DENGUE. MAKARA, KESEHATAN.2006.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment