PERBEDAAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH DENGAN ALIRAN WAHABI

 
(LP MA'ARIF NU LAM-TENG, 1997) - Pelopor faham wahabi adalah Muhammad bin Abdul Wahab (11151201 H/1703-1787 M). Oleh karena itu, orang mengatakan fahamnya/gerakannya dengan "Wahabiyah", dibangsakan kepada Abdul Wahab, bapak muhammad bin Abdul Wahab. tetapi nama yang dipakai golongan wahabiayah sendiri adalah "Al Muwakhiddun" (Unitarians). Dalam bidang iqih mereka berpegang pada madzhab Hambali yang disesuaikan dengan tafsir Ibnu Taymiyah. Adapun ajaran Wahabi yang bertentangan dengan I'tiqad Ahlussunnah dapat diutarakan sebagai berikut:

1. Berdo'a dengan Tawasul
 Ulama-ulama wahabi berpendapat, bahwa mendo'a dengan tawasul adalah kufur/syirik, karena itu haram hukumnya untuk melakukan yang demikian itu. Hal ini tidak mengherankan, karena Wahabi adalah penerus yang fanatik dari fatwa-fatwa Ibnu Taymiyah.

Pendapat Wahabiyah yang demikian itu bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jama'ah. Tawasul, artinya mengerjakan sesuatu amal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di dalam Al-Qur'an perkataan "Wasilah" disebutkan dalam dua tempat, yaitu:

a. Dalam Surat Al Maidah ayat 35.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ - See more at: http://dakwahquransunnah.blogspot.co.id/2013/12/makna-wasilah-pada-surat-al-maidah-ayat.html#sthash.T7YbseGc.dpuf
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ - See more at: http://dakwahquransunnah.blogspot.co.id/2013/12/makna-wasilah-pada-surat-al-maidah-ayat.html#sthash.T7YbseGc.dpuf
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ - See more at: http://dakwahquransunnah.blogspot.co.id/2013/12/makna-wasilah-pada-surat-al-maidah-ayat.html#sthash.T7YbseGc.dpuf
Dalam ayat tersebut terdapat tiga hal yang dapat diambil kesimpulan:
- kita wajib taat/patuh kepada Allah SWT
- Kita diperintahkan mencari jalan (Wasilah) yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.
- Kita diperintahkan untuk berjuang/jihad fisabilillah

b. Dalam surat Israa ayat 57:
Demikian arti wasilah dalam Al-Qur'an. Maka mendo'a dengan tawasul ialah mendo'a kepada tuhan dengan wasilah, yaitu memperingatkan sesuatu yang dikasihi tuhan. Contoh mendo'a dengan wasilah atau tawasul kepada Tuhan ialah sbb:

a. Kita datang kepada seorang Nabi/Ulama' yang mulia dan dikasihi Than, lalu kita mengatakan kepada beliau: "saya akan mendo'a memohon sesuatu kepada Allah, tetapi saya berharap pula tuan guru mendo'akan kepada Allah bersama saya, supaya permintaan saya ini dikabulkan-Nya". lalu kedua orang ini mendo'a.

b. Kita mendoa kepada Tuhan, Umpamanya : "Ya Allah, berkat nama-Mu yang besar. maka berikanlah saya ........... dan kabulkanlah permohonanku ini ......". ini namanya mendo'a dengan tawasul nama Tuhan.

Ulama-ulama Ahlussunnah menfatwakan berdo'a dengan wasilah atau tawasul itu adalah baik, sunnah dan berpahala jika dikerjakan.

2. Tentang Ziarah Kubur
Salah satu ciri khusus dari pendapat wahabi adalah mengharamkan pergi ziarah kubur. Perjalanan untuk tujuan itu dianggap maksiat yang wajib dilarang. karena itu tidak boleh mengqoshor atau menjama' sholat dalam perjalanan ziarah itu.

pendapat itu bertentangan dengan faham ahlussunnah yang selalu menfatwakan bahwa perjalanan ke maddinah untuk menziarah makam Rasulullah saw, adalah perjalanan yang dituntut oleh syare'at. sunah muakkad yang baik sekali untuk dikerjakan.

Fatwa orang Wahabi seperti dikemukakan di atas, bila kita amati sekarang, maka sudah tinggal di atas kertas saja. karena kaum wahabi yang sekarang berkuasa di Saudi Arabia sudah tidak berani lagi melawan umat islam sedunia yang datang berbondong-bondong menziarahi makam Nabi tiap-tiap tahun, apalagi pada waktu musim haji.

Kita melihat dengan mata kepala sendiri bahwa keberangkatan jama'ah haji ziarah ke Madinah/ kembalinya dari Madinah ke Makkah diurus dan diselenggarakan oleh petugas-petugas kerajaan Saudi Arabia, yang justru berfaham wahabi. Jadi secara faktual faham yang melarang orang-orang berziarah kubur sekarang sudah tercabut dengan sendirinya:

 a. sabda Rasulullah saw :
قا ل ر سو ل الله. ص م . كنت نهيتكم عن ز يا ر ة القبو ر فز و ر ها و فى ر و ا ية : فن و ر ا لقبو ر فا نها تذ كر ا لمو ت)
ر وا ه لمسلم)  
Artinya: "Bersabda Rasulullah saw: "Dulu saya melarang menziarah kubur, (sekarang) ziarahlah. Dalam satu riwaat: Maka ziarahlah kubur, karena ziarah itu dapat mengingatkan kepada mati". (HR Muslim)

b. Sabda Rasulullah saw: "Barang siapa menziarahi kuburku sesudah aku meninggal maka seolah-olah telah menziarahi saya pada waktu aku hidup".

c. Hadits Rasulullah saw: "adalah Rasulullah saw, mengerjakan kepada mereka (shalat-shalat Nabi), apabila mereka datang kepekuburan harus dikatakan: "salam atasmu hai orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, bahwasanya kami insyaallah akan menghubungi kamu.....". (H.R. Muslim)

3. Tentang Istighatsah
Menurut ulama-ulama wahabi, bahwa barang siapa yang menjadikan Malaikat, Nabo-nabi, Ibnu abbas, Ali bin abu Thalib, atau Mahjub perantara antara mereka dengan Allah, karena dekat dengan Allah, seperti yang banyak dilakukan orang dihadapan raja, maka orang itu kafir, musyrik, halal darah dan hartanya, walaupun ia mengucapkan dua kalimah syahadat, shalat, puasa dan mendakwahkan dirinya sebagai muslim.

Arti "menjadi perantara" yang dilarang itu menurut faham wahabi yang disebut "berIstighatsah" dengan mereka. Siapa yang beristigatsah menjadi syirik. Contoh Istigatsah ialah: 'Seorang muslim datang menziarahi makam Rasulallah saw, di Madinah, lantas di tempat itu ia berkata menghadapkan pembicaraan kepada Nabi: "Hai rasulallah, Ya Habiballah, Ya Nabiyullah, berikanlah kami syafaat engkau di akhirat, mintakanlah kepada Allah supaya kami ini selamat dunia akhirat". Inilah ucapan orang yang beristigatsah.

Cara ini syirik menurut faham wahabi, karena terdapat beberapa unsur kemusyrikan, yaitu:
a. memanggil dan menghadapkan pembicaraan kepada orang yang telah mati, sedangkan orang itu telah hancur menjadi tanah.
b. Meminta/memohon kepada orang mati, kepada makhluk, seangkan yang boleh dijadikan tempat memohon pertolongan itu hanyalah Allah SWT.
c. Menjadikan Nabi sebagai perantara antara ia dengan Allah, sedangkan Allah dekat kepada semua hambanya.

Ahlussunnah wal jama'ah tidak sefaham dengan wahabi dalam soal ini, ahlussunnah berpendapat bahwa:
a. Memanggil dan menghadapkan pembicaraan kepada orang yang telah mati boleh saja, tidak dilarang, bahkan dikerjakan oleh Nabi dan sahabatnya, bahkan juga oleh umat islam sedunia.
b. Nabi muhammad saw, walaupun beliau wafat, tapi beliau hidup didalam kubur dan mendengarkan semua salam, semua permintaan orang sebagaimana keadaannya sewaktu beliau masih hidup di dunia.
C. Minta tolong kepada makhluk, kepada selain Allah, kepada Nabi dan kepada manusia boleh saja tidak terlarang dalam agama.

Dalil yang dijadikan sandaran Ahlussunnah wal Jama'ah adalah sebagai berikut:
a. Hadits Rasulalla saw: "Dari annas r.a. berkata: "Pada suatu malam kaum muslimin mendengar Rasulallah menyeru dekat telaga badar: "Hai Abu Jahil bin Hisyam, Hai Syibsi bin Rabi'ah, Hai Ummayah bin Khallaf! adakah kamu menerima ganjaran siksa yang dijanjikan Tuhan kepadamu sekalian? Saya sudah menerima apa yang telah dijanjikan kepada saya. Sahabat-sahabat ketika itu bertanya kepada Nabi: "Kenapakah Tuan memanggil orang-orang yang sudah menjadi bangkai? maka Nabi menjawab: "Mereka mendengar apa yang aku ucapkan melebihi dari pendengaran kamu, tetapi mereka tidak kuasa menjawab"

b. Hadits Rasulallah saw: "Dari annas bin Malik, dari nabi saw bersabda: Hamba-hamba Tuhan apabila diletakkan dalam kuburnya dan orang-orang pengantarnya sudah mulai kembali pulang, maka mayat itu mendengar detak-detik sandal mereka". (H.R. Bukhari)
Previous
Next Post »
Thanks for your comment